Tuesday, October 17, 2017

6 Tips Beli Oleh-Oleh Turki Tanpa Bikin Kantong Bolong


Kembali lagi membahas Turki. Perjalanan kemarin memang bikin susah move on banget. Sesuai janji juga, saya akan membagi cerita perjalanan kemarin ke dalam beberapa post. Kali ini, saya mau share sesuatu yang penting di setiap traveling: oleh-oleh!

Almarhum mama dulu adalah seorang yang selalu mewajibkan beli oleh-oleh ke manapun dia pergi. Jadi wajar kalau sekarang, saya menomorsatukan oleh-oleh kalau traveling. Suka kepikiran gitu, beli ini buat si ini beli itu buat di anu. Yang bikin pusing adalah keluargaku keluarga besar. Kakak ada 8, keponakan ada 20+, belum temen geng yang banyak (Curhat). Jadi akhirnya saya nggak bisa membeli oleh-oleh seperti yang saya harapkan. Apalagi kalau kondisi keuangan menipis.

Nah, untuk menghadapi masalah di atas, saya punya trik pribadi. Kali ini yang dibahas khusus beli oleh-oleh di Istanbul Turki. (Kalau terlihat subjektif dan sesuai selera pribadi, silahkan sesuaikan lagi ya!)

Sunday, October 15, 2017

What do You Expect from a Cup of 'Women Coffee'? Stress Healing and Weight Loss!




Dulu, kopi selalu diidentikkan untuk pria, sedangkan teh identik untuk wanita. Istilah "kopi dan teh" seakan punya gender masing-masing. Mungkin saja karena warna kopi yang hitam dan rasa pahit yang pekat membuatnya terlihat 'macho' dan lebih cocok dijadikan image pria. Sedangkan teh yang kadar kafeinnya lebih ringan dan lebih menenangkan terlihat tepat menjadi gambaran wanita.

Dalam sebuah riset yang dilakukan Food and Nutrition Sciences kepada 1200 peminum kopi, 50% pria meminum kopi sedangkan wanita hanya 32% saja. Wanita lebih menyukai kopi yang manis atau dicampurkan dengan bahan lain seperti latte.

Sunday, October 8, 2017

Things I Love from Turkish Hijab Style

with Layla, my first Turkish friend <3 br="">


Mengunjungi Istanbul memberikan sensasi fashion tersendiri bagi saya. Ternyata kota ini tak hanya bisa menyegarkan mata dengan bangunan Eurosia yang indah ataupun selat Bosphorus yang biru, tapi juga penampilan para hijabi yang di luar ekpektasi.

Hijab style khas Turki sudah sangat terkenal di Indonesia, bahkan di dunia. Gaya hijab simple, dengan tudung mancung berbahan satin jadi gambar teratas saat kita searching "Turkish Hijab" di Google. Saat saya benar-benar melangkahkan kaki di negara ini, foto teratas di Google itu saya yakini sudah sangat jadul.

Wednesday, August 16, 2017

Review Coco Blanc Pressed Powder dan Foundation Stick dari Hellosora


Saya sempat vakum pakai bedak untuk beberapa waktu. Paling pakai bedak tabur itupun cuma kalau wajah terlihat terlalu berminyak setelah menggunakan sunscreen. Alasan awalnya karena saya merasa pakai bedak itu bikin kulit lebih cepet beruntusan. Jadi kalau bisa jangan pakai two way cake atau bedak yang berat-berat.

Tapi gimana kalau datang ke acara-acara spesial seperti ke kondangan? Akhirnya saya mencoba Coco Blanc dari hellosora.com kerjasama bareng Clozzete (Yeayy thank you Clozette!).

Hellosora adalah beauty e-commerce khusus produk Korea. Di sini ada skin care, make up, dan hair care Korea. Kamu bisa beli brand-brand populer Korea di sini seperti Cosrx, Secrey Key, Neogen dan masih banyak lagi. Kabar baiknya, di Hellosora juga menyediakan fasilitas free shipping untuk produk tertentu, langsung cek aja di sini ya.

Sunday, August 6, 2017

Review Babor Indonesia: Skincare Bagus buat Kulit Sensitif


Seneng deh minggu lalu diundang ke acara Clozette Blogger Gathering bersama Babor Indonesia. Sebelumnya sudah sering banget denger brand kecantikan asal Jerman ini. Tapi memang baru hadir di Indonesia beberapa bulan lalu.

Buat yang belum pernah denger, Babor merupakan brand kecantikan Jerman yang sudah berdiri sejak 1955. Tepatnya di Auchen, Babor dikenal dengan bahan-bahan alami dan campaign peduli lingkungan. Auchen juga dikenal hot spring-nya, jadi thermal water gitu banyak didapatkan dari sini.

Selama 60 tahun usia Babor, baru tahun ini nih dateng ke Indonesia. Jadi wajar dong kalau saya super happy pas diundang ke acaranya.

Sunday, July 23, 2017

Fenomena 'Reporter Dadakan'




Kita ada di era, semua orang bisa menjadi media. Tentu saja dibantu dengan penemuan canggih bernama social media. Dulu, untuk tahu kabar dunia saya harus menunggu pengantar koran setiap pagi atau menunggu jam-jam berita tayang di TV. Sekarang, tak harus menunggu media besar itu untuk tahu apa yang sedang terjadi, cukup melihat apa yang sedang banyak di-post oleh teman-teman saja sudah cukup mewakili.

Suatu hari, di malam minggu yang santai, sepupu saya mengirimkan gambar orang bunuh diri di grup WA keluarga. Mengerikan sekali, bunuh dirinya gantung diri (lengkap dengan lidah menjulur dan berwarna ungu, ewh). Duh, kalau saya menuruti kemauan saya, ingin rasanya langsung delete dan melupakan hal itu. Saya tidak mau tahu.