Wednesday, April 27, 2011

"sabar ya mia"

dalam warna malam yang tipis, dan hujan yang meludahi daun kecil di samping kamar, dunia terasa begitu berbeda di ruangan ini. jika aku bunga, mungkin aku sedang melawan kemarau yang mungkin akan membuatku layu dan terjatuh sia-sia di tepi jalan.
Entah bagaimana aku menumpuk bongkahan kata yang tepat untuk mengutarakan maksudku berbicara malam ini. entah penting, entah tak berguna.
hidup sedang mengeras, batu sedang meruncing, udara sedang mendingin. tapi aku masih tak bergeming.


Dengan sedikit keberanian, akhirnya saya memutuskan untuk berbicara di sini. Tentang kebiasaan saya menangis sendirian yang masih saya lakukan, dan mungkin akan saya lakukan dalam waktu yang tidak bisa diprediksi. Saya rasa perlu menangis, setelah beberapa hari yang lalu, saya sesak nafas, lalu dibawa ke klinik terdekat, diprediksi jantung sensitif dan lambung yang jelek. Tapi untungnya setelah lanjut berobat ke internist, jantung saya baik-baik saja, hanya lambung yang kembali berdemo agar saya memperbaiki pola makan, dan tidak terlalu banyak pikiran.
saya stres. tentu. saya baru saja ditinggal mendiang mama, dua minggu yg lalu, padahal luka ditinggal mendiang bapa lima tahun yang lalu belum kering. dan padahal lagi, ada banyak unek-unek yang belum saya sampaikan pada mama, dan padahal lagi, saya sering menangis karena mama satu bulan terakhir sebelum dia pergi, sayangnya, mama belum tahu semua itu.
lalu ketika semua orang mengetahui hal ini. mereka akan berlomba-lomba mengucapkan kata "sabar ya mia" atau "kamu harus kuat" dengan gaya bicara yang berbeda. saya sungguh bosan diminta untuk sabar dan kuat, saya sudah menghafal dua kata itu di luar kepala, mereka tidak perlu mengingatkan saya lagi, terima kasih.
karena saya tidak mau membuat orang-orang kebingungan harus merespon tangis saya seperti apa, jadi biar saya menangis sendiri, biar saja mereka tidak tahu, atau pura pura tidak tahu. atau biar saja mereka pun asyik (atau menderita) dengan masalah mereka sendiri.

sebenarnya saya hanya ingin menarik nafas, memandang jauh ke bukit-bukit hijau yang asri, atau bunga-bunga yang sedang mekar. tidak dengan tugas kuliah yang membabi buta, persiapan presentasi berbahasa inggris untuk seleksi mahasiswa berprestasi di jurusan, dan teman-teman yang menangisi hal hal yang sulit saya mengerti. saya ingin menarik nafas panjang, menguatkan diriku sendiri bahwa saya pantas untuk hidup, dan saya harus melanjutkan hidup.
itu saja
itu saja
tanpa ada lagi yang berkata "sabar ya mia"
karena kalau saya tidak sabar, saya tidak akan diberi ujian ini. mengerti?