Benar dan Salah





Bukan hanya mahasiswa psikologi sebenarnya yang selalu jadi tempat curhat temannya. Saya rasa semua orang pernah menjadi tempat curhat. Kalau ada yang tidak pernah menjadi tempat curhat teman atau saudara, atau setidaknya orang tuanya, saya pikir orang tersebut sangat menyedihkan :p .

Oke, karena sering sekali mendengar cerita cinta dari teman-teman, saudara, bahkan orang tua, timbul keinginan saya untuk mereview, at least menceritakan satu atau dua yang menarik. Bahkan dari satu orang pun memiliki lebih dari satu cerita. Yang ingin saya bahas sebenarnya satu tema saja, yaitu Benar dan Salah.

Bagi sebagian orang, mungkin menjadi seseorang yang tersakiti dalam sebuah kisah cinta itu adalah pengalaman yang tak terlupakan. Banyak yang memiliki pemikiran "salah" atau "benar". Kebanyakan yang merasa tersakiti, adalah mereka yang sudah berbuat "benar" tetapi disalahkan oleh pasangannya. Atau mungkin juga, mereka yang sudah berusaha mempertahankan hubungan, tapi malah dihancurkan oleh pasangan mereka. Sehingga mereka merasa sakit, perih, atau galau :p .

Saya pernah berbincang dengan salah satu teman yang umurnya di atas saya. Dengan bijak dia berkata, kalau ketika bertengkar, penyelesaian tidak terpatri pada pembenaran atau penyalahan seseorang. Karena benar dan salah itu memang sangat subjektif. Jika kita menunggu pembenaran dan penyalahan terus menerus, pertengkaran itu akan selalu ada, seperti rel kereta api yang tak berujung. Sebaiknya, jika memang bertengkar, yang dicari itu adalah akar masalah pada diri masing-masing.
Terkadang, orang yang merasa sudah berbuat benar, itu "benar" menurut pandangannya sendiri, lain lagi menurut orang lain, juga menurut pasangannya. "Benar dan Salah" memang dibicarakan para filosof dari zaman ke zaman, semuanya mudah berubah.

Ada beberapa hal yang harus kita pahami, sebelum kita memvonis kebenaran atau kesalahan. Ada bebarapa hal yang harus kita toleransi dari sifat manusiawi seorang manusia, sehingga kita tidak terlalu cepat menyalahkan dan bisa memaklumi. Ada beberapa hal yang tidak udah kita pikirkan dan jalani terlalu serius, termasuk soal cinta ini. :p

Jadi ketika merasa tersakiti, mungkin saja kita terlalu serius menjalani dan memikirkan sebuah hubungan.
Karena memang pada hakikatnya, pacaran itu jelas dilarang agama. Cinta kepada manusia itu jelas hanya sementara. Salah satu ustadzah saya pernah berkata, "Putus Asa adalah sebagian dari ketidaktahuan manusia bahwa ada Camput Tangan Allah di dalamnya" dan "Bergantung pada manusia adalah Sumber Kekecewaan"

Ya, jelas sekali, untuk apa kita mengejar cinta manusia, pujian manusia, jika itu semua bersifat fana? Akan mudah berubah, dan hilang. Untuk apa mencari pembenaran dari orang lain, dari semua orang? jika pembenaran menurut Allah kita acuhkan? Astagfirullah.

Cinta itu manusiawi, rasa suka, rasa kagum, itu sangat wajar dirasakan manusia. Tapi jangan sampai rasa ini berlebihan dan menenggelankan diri kita sendiri. Karena cinta itu akan jatuh,bangun,jatuh,dan bangun.

Hanya Cinta kepada Rabbi yang insya Allah permanen, tidak akan mengecewakan,tidak akan menyakitkan. Mari berhenti mencari pembenaran atas apa yang kita lakukan untuk orang lain, tapi bertindaklah secara benar menurut Allah :)



Share:

1 komentar