Tuesday, September 18, 2012

Menghemat Kesenangan

Kesenangan  dan kebahagiaan itu -entah kenapa- memang dibuat oleh pikiran kita sendiri. Tapi kekuatan untuk mengontrol, when it happens itu susah sekali. Semua orang bisa bilang, kita bisa senang dan sedih kapanpun kita mau, hanya bagaimana kita merespon kejadian yang terjadi pada kita setiap harinya, tapi ternyata memang tidak semudah itu. Karena, -look at your self- kita tetap sering senang dan sedih silih berganti kan? dan meski kita bisa memperlihatkan ke semua orang kita bisa ceria dan senang selalu, tapi kita pernah kan sedih sendirian biar gak ada orang yang tahu? 


from google
Yang pengen aku uraikan di sini, adalah tentang kebahagiaan itu bagi aku juga punya kuantitas yang bisa kita atur sendiri. Ini aku sadari ketika suatu hari, my boyf ( yang memang tidak hedonis ) di tengah perjalanan kita pulang dari toko buku, tanpa aku minta dan tanpa berbicara apa-apa, memberhentikan motornya di depan cizz cake laswi. Aku sering banget bilang sama dia, kalau aku suka banget cizz cake ini. Dan sesering itu pula my boyf gak pernah membelikanku barang sebiji. Dia juga sangat jarang membelikanku benda-benda lain atau makanan yang memang bersifat tertier. He always does the rules. Balik lagi, aku kaget, karena memang dia tidak bilang sebelumnya akan berhenti di tempat cizz cake lezat ini. Tiba-tiba dia ngomong "ini surprise sih sebenernya, meski mungkin ini hal yang  biasa bagi kamu, tapi kali ini aku pengen beliin kamu cizz cake, kita makan berdua di sini (untuk waktu yang sangat jarang terjadi), kamu seneng gak?aku pengen banget bisa bikin kamu seneng".


Aku, sebenarnya memang mampu-mampu aja membeli cizz cake itu -yah minimal sebulan sekali masa iya gak bisa menyisihkan uang 17rb- tapi entah kenapa, aku memang jarang membeli cake beginian meski aku suka banget. Tapi kali ini, karena jarangnya aku makan cake ini, dan jarangnya my boyf membelikanku makanan-makanan selain makanan pokok untuk bertahan hidup, ini sesuatu yang aku bilang MEMBAHAGIAKAN. sederhana? Gak sesederhana itu, bahagia itu memiliki proses yang panjang dalam pikiran kita, dan bagi aku, bahagia ini tak sesederhana itu.

Prosesnya?

Pelajaran yang aku ambil dari situ dan seterusnya dalam hidupku, ada kalanya kita harus menghemat kesenangan yang kita miliki. Let see, kalau misalnya aku makan cizz cake (kesenanganku) itu setiap hari, yah setiap minggulah, kemudian my boyf pun sering membelikanku hal-hal tertier (atau ga penting?) hampir setiap hari, MUNGKIN aku gak akan sesenang itu kan dikasih surprise makan cizz cake berdua di siang bolong? Gak akan. Itu akan menjadi hal yang BIASA aja. 

ini yang gue pesen waktu itu

Ini berequivalen dengan kehidupan para hedonis di Bandung yang mungkin nongkrong di kafe mahal itu biasa, makan makanan itu biasa, beli baju mahal itu biasa, beli gadget baru biasa,nyalon atau ke spa itu biasa, semua kesenangan itu biasa. Ah, aku rasa mereka akan susah mencari "kebahagiaan" yang benar-benar berbeda. I mean, jika ada tiga level kebahagiaan  A-Z , orang hedonis gak akan cukup sampai level D, E, F, mereka tidak akan bahagia di level itu, mereka akan terus mencari level yang tinggi, terus dan terus dan terus dan terus sampai level tertinggi. Sedih gak sih menjadi orang yang sulit bahagia? sedih gak sih menjadi orang yang selalu merasa kurang? Back to surat Arrahman, kata Allah juga "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?"


Bukan, bukan berarti aku melarang kamu-kamu semua untuk memanjakan diri dengan hal-hal seperti itu. Itu hak kalian semua, its your life, your decision, and i'm not an angel anyway. Boleh banget kok kita makan makanan kesukaan, makan enak, beli baju mahal, beli barang mahal, or other kind of hedonism. Boleh banget sebanget-bangetnya. Gak ada peraturan pemerintah yang melarang. Tapi mungkin, sepertinya, jangan sering-sering kali ya ? Yang aku taruh di judul itu "Menghemat kesenangan" ko buka "menghilangkan kesenangan". Jadi ya kita atur kuantitas dan kualitas kebahagiaan kita, dan iringi dengan syukur yang besar di dalamnya. Eh, aku punya cerita satu lg. Jangan dulu bete, please, ini seru.

Suatu hari ada satu orang miskin dan satu orang kaya. Tiba-tiba keduanya harus bertukar tempat karena ternyata mereka adalah anak yang tertukar (sinetron banget gak sih?, tapi ini hikayat Arab lho) . Tapi guess what. Orang miskin itu menolak dengan tegas untuk memiliki semua harta benda yang serharusnya dia dapatkan. Because what? (ala-ala juri Indonesian Idol yang botak itu ya gue ngomong), orang miskin itu bilang "Mensyukuri hal yang sedikit saja, badan yang sehat, tempat tinggal yang aman, dan semuanya secara rinci,waktuku tak pernah cukup, bagaimana cukup waktuku untuk mensyukuri semua harta benda lain yang megah itu?"

tamat.

(jadi serunya di sebelah mana?)

Oke, ini tulisan udah kepanjangan.

Well, mungkin sebagian dari kamu udah mengartikan sendiri arti hikayat itu dan tulisan aku sebelumnya. Antara kesenangan kita, dan kewajiban kita untuk mensyukurinya, di tengah-tengah itu ada kita, Sang Pengelola (Manager, Direktur, GM or whatever) yang diberi akal untuk berpikir,berpikir,berpikir, how to make it deal. Kita benar-benar diberi kemudinya sama allah.  Dan kamu semua udah tahu lah ya, bagaimana wajibnya bersyukur. Yang pengen aku sampaikan (semoga sampai yah maksudnya) hanyalah, adakalanya kita harus menghemat kesenangan yang kita miliki. Karena itu bisa menjadi satu dari banyak cara lain yang bisa membuat kuantitas dan kualitas kebahagiaan kita terjaga. Jangan sampai kita menjadi orang yang susah bahagia (hiiiy, no thanks, naudzubilah), jangan sampai kita menjadi orang susah merasa cukup. well i told u before, i'm not an angel anyway, and never be an angel in this world, so i do mistake i did mistake, and maybe i will do mistake. and mmm.. ini cuma apa yang ada di otak dan ingin aku sebarkan. Bukan berarti aku juga sudah bisa menghemat kesenanganku, belum. Bareng-bareng aja lah ya. 

Oke, thank u for reading. (Semoga maksud yang ada di otak gue tersampaikan dengan baik karena gue yakin ini mengandung pro kontra dari para readers). Tapi yang penting, kita sama-sama belajar. ^_^ semangat!




with love,
Silmia. 

Tuesday, September 4, 2012

Mereka,prestasiku.


Mereka orang-orang hebat, kata-kata itu yg mungkin tidak akan pernah aku ucapkan langsung di depan muka mereka, sahabat-sahabat gilaku.  Selama empat tahun mengenal mereka, hampir semua aktifitas perkuliahan dilakukan bareng-bareng dari mulai ngerjain tugas sampai subuh, cekakak cekikik di kantin, jadi nerd di perpustakaan, nongkrong di kafe harga mahasiswa, berburu diskon di distro-distro, curhat ampe nangis-nangis, ngaliwet atau masak seblak, ngeramein himpunan (ngeramein doank ya), karoke dengan suara apa adanya, nginep-nginepan bareng, ngegodain pelayan kedai mie ramen, dan masih banyak lagi kegiatan waras ataupun gila bersama mereka.  Dan kesemuanya itu, selalu dibarengi tawa yang mampu melupakan semua kisah sedih yang kita miliki. 

Mereka, hampir semuanya memiliki karakter ceria. Mereka supel, dan selalu mampu mewarnai suasana di manapun mereka berada. Berbeda denganku yang nocomment person, muka agak asem stadium 3, agak-agak pemalu (tapi mereka selalu gak setuju poin ini), cuek alias masa bodoh, dan gabisa membuat orang ketawa ngakak like they always do. Well, tapi mereka menyambutku dengan baik, mereka paham kalau mulutku mulai mengeluarkan kata-kata nyelekit yang mampu membuat siapapun sakit hati (padahal aku gak maksud, sumpah) dan mereka bisa tertawa terbahak-bahak merespon leluconku yang mungkin bagi orang lain tidak sama sekali lucu. Mereka, ya, bagiku, memiliki jiwa sosial tinggi, setinggi-tingginya yang mungkin selama ini kurang aku pelajari di keluargaku. 


Then, dari merekalah, aku belajar bagaimana membuka pembicaraan, bagaimana memasang muka courious ketika mendengarkan orang lain bercerita, bagaimana mengomentari hal-hal yang bagiku (dulu) tidak penting sama sekali, bagaimana memperhatikan orang lain dan menganggap pertanyaan “udah makan belum?” itu adalah pertanyaan yang menunjukan kepedulian bukan pertanyaan yang dulu aku pikir menyepelekan yang seharusnya dilontarkan untuk anak SD. Dari mereka aku belajar satu persatu tugas makhluk sosial yang harus aku emban, tanpa kompensasi atau complaining.


Perlu aku sebutin lagi aku belajar apalagi dari mereka? Too much to explain here, babe.
Sampai saat ini, aku selalu ingin menjadi seperti mereka. Namun tentu aku tidak bisa mengubah kepribadianku sendiri untuk bisa dianggap menyenangkan seperti mereka. Well, kadang aku merasa, aku tidak akan banyak dikenal orang banyak di jurusan kalau tidak bersama mereka. Ya, anggaplah geng kami ini adalah salah satu geng populer (atau mereka menyebutnya geng riweuh, geng rusuh, or whateveryouwannacallus) yang dikenal banyak dosen, aktif di kegiatan himpunan dan UKM kampus, yang dipercaya untuk mengelola setiap tugas kelompok di kelas, yang mengatur kegiatan-kegiatan angkatan, yang mempioneri penampilan mahasiswa bimbingan konseling yang notabene berpenampilan konservatif menjadi provokatif (or u wanna call fashionable?), dan lain sebagainya. Apapun anggapan mereka, aku hanya ingin bilang, kami hanyalah beberapa mahasiswa yang memiliki pola pikir yang agak berbeda dengan mahasiswa berotak kiri itu, agak-agak nyeleneh, agak-agak tidak mau diatur (atau gak mau diatur Banget?, whatever). 



Ya, itu  semua benar-benar hanya sekilas dari kegilaan kami dan kebersamaan kami selama 4 tahun terakhir.  And after all, aku hanya ingin mengucapkan terima kasihhhhhhhhh pake banget-banget untuk semua hal yang gak bisa aku sebutin satu persatu di sini (berasa ucapan terima kasih di album baru,novel baru,atau skripsi?). Aku tidak tahu kebersamaan ini akan sampai kapan bisa berlangsung, tapi aku sedikit yakin, tahun depan kita mungkin udah berpencar, mengikuti nasib dan passion masing-masing. Aku berharap, persahabatan kita ga akan berhenti sampai lulus kuliah aja, tapi sampai kita sudah tidak bisa melihat dunia lagi. (jadi agak mellow ya).  

Aku, Silmia Putri, selalu kagum sama kalian semua, selalu ingin menjadi orang yang menyenangkan seperti kalian semua, dan kalian, adalah dosen terkeren selama aku kuliah di sini. Karena, ya, sekali lagi, banyak banget hal yang aku pelajari dari kalian J Well meski, maaf banget ada banyak hal yang gak aku curhatin ke kalian, ada banyak tangis yang gak aku bagi bareng kalian, tapi aku, insya allah selalu membagi tawaku, kebahagiaanku agar kita bisa sama-sama tertawa, as always. Aku, yang memang tertutup, tidak mau merusak kebersamaan kita hanya dengan tangis aku, atau kepenatan hatiku yang baru resmi menjadi yatim piatu setahun lebih ini. Aku, dengan segala analyze thinking ku, kesulitan untuk bisa memverbalkan perasaanku, cerita-ceritaku, dan keinginanku. Bukan, bukan aku tak percaya kalian mampu mendengarkanku dengan baik. Aku, percaya, percaya banget. Tapi, aku, tidak cukup handal untuk bercerita lewat lisan. But overall, aku baik baik saja, karena ada kalian yang membuatku ceria .

Dan maaf, jika aku memang belum bisa menjadi sahabat terbaik kalian. Maaf untuk jutaan kata-kata nyelekit yang keluar spontan dari mulutku, untuk bahasa tubuhku yang mungkin kurang responsif. Untuk sifat pelupa ku yang sering bikin nyusahin, untuk sifat cuek ku yang bikin kalian sebel setangah mati. Maaf untuk semua, semua kekuranganku, yang selalu bisa kalian toleransi. Maaf 

Sekali lagi,jangan berhenti untuk mengajariku tertawa dengan lepas, jangan berhenti untuk menjadi sahabat terhebatku. Karena kalian, prestasi terbesarku selama menjadi mahasiswa. And I love u all, more than u know.



With love,
Silmia Putri .