Friday, January 11, 2013

Everyone can be a lucky one

Sering banget kuping saya gatel mendengar orang-orang yang kurang mampu secara ekonomi atau yang cacat disebut orang "kurang beruntung". Seakan-akan apa yang terjadi sama mereka hanya masalah peruntungan saja. Kemudian orang-orang yang memiliki banyak harta, atau dimudahkan urusannya, disebut orang yang beruntung. Pernah berpikir seperti itu juga? Saya pernah, dulu banget sebelum saya yakin saat itu saya bisa berpikir dengan jernih. Sekarang pandangan itu, 100% bertentangan dengan pandangan saya.

Ada beberapa orang yang seperti "dimudahkan" oleh Tuhan dalam hidupnya, misalnya mudah mendapatkan harta, jodoh, jabatan dan lain sebagainya. Orang-orang ini yang sering kita sebut orang yang beruntung. Banyak  kan ada orang-orang seperti itu, yang tiba-tiba menang kuis milyar jutaan , yang tiba-tiba dapet jodoh anak menteri kaya raya, yang tiba-tiba dapet kerjaan bagus, yang tiba tiba masuk universitas terkenal, dan "tiba-tiba" lainnya yang membuat kita bilang "dia beruntung banget".  Secara gak langsung, orang yang bernasib kebalikannya, misalnya hidupnya susah dari mulai yang nikah diselingkuhin, duit buat makan aja gak ada, sampai orang yang cacat fisik maupun mental, itu berarti gak beruntung? dan yang kita tahu, kebalikannya beruntung itu sial ya, berarti mereka orang yang sial? dont u argue that?

Saya gak terima.

Mungkin karena saya berpikir, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Allah itu Maha Tahu, gak ada sehelai daun pun yang jatuh tanpa izin-Nya. Gak mungkin lho Allah menentukan nasib manusia berdasarkan peruntungan aja. Setiap kejadian, sekecil apapun itu, pasti aja ada hikmahnya. Orang yang tiba-tiba dapet duit jutaan milyar, mungkin bagi sebagian orang dia beruntung karena dia bisa membeli apa saja yang dia butuhkan saat itu juga. Tapi bagi sebagian lain, itu cobaan berat, karena uang itu ujian agar tidak sombong, pemanfaatan uang itu juga ujian bagi si penerima karena bila tidak digunakan dengan bijak akan habis dengan sia-sia.  I mean, beruntung ga beruntung itu bener-bener gimana mindset kita. Terus, orang yang cacat fisiknya, misalnya buta gitu, apa dia orang yang sial? Allah gak akan ngasal kan dalam pengambilan keputusan? Gak random kan dalam memilih mana saja orang yang pantas dia berikan ujian atau kenikmatan? Pasti ada -dan mungkin banyak- hikmah yang mungkin tidak kita sadari dari hal yang kita bilang sesuatu yang "sial atau kurang beruntung" itu. 

 klise? enggak kalau kamu masih ngiri sama temen kamu yang kaya, yg cantik/ganteng, yg pinter, sementara kamu pikir kamu gak kaya gitu.

Bagi saya, justru orang yang beruntung bukan orang yang diberi kemudahan saja, tetapi justru adalah orang yang mampu berpikir bijak, mengambil hikmah, dan merespon setiap hal yang dia dapatkan dengan tepat. Ketika dapat kebahagiaan atau kesedihan, orang beruntung akan dengan bijak mempelajari hikmah yang bisa dia ambil. Tidak tinggi hati ketika di atas, dan tidak rendah diri ketika di bawah, itu baru beruntung. 

Ketika saya memahami ini, saya kemudian mengerti, semua orang bisa menjadi beruntung, everyone can be a lucky one. Setiap orang, hitam atau putih, kaya atau miskin, cantik atau jelek, itu bisa beruntung, jika dia benar-benar mempelajari apa yang Allah rencanakan. Cewek jelek, itu beruntung ketika berjalan di antara preman pasar, gak akan digodain apalagi digangguin kaya cewek cantik. Cewek jelek juga beruntung karena dia gak disusahin sama admirer yang nge-sms-in terus, nelpon terus, dateng terus, dan bla bla bla. Ada berjuta alasan yang bisa kita ambil kan? Benar-benar permainan pikiran aja. 

You are what you think itu mungkin bener. Kalau kamu pikir kamu sial, ya sial, karena kamu memang gak mampu ngambil hikmah dan manfaat dari apa yang kamu terima. Allah itu sebagaimana prasangka hamba-Nya. Prasangka kita, pikiran kita, mindset kita, itu benar-benar alat terdahsyat yang bisa membuat kita beruntung atau sial. So, em, jangan mau jadi orang yang sial atau kurang beruntung dengan tetap memelihara pandangan negatif baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. yaa, pinter pinter lah ya mencari apa hikmah dari setiap kejadian yang kita alami, dan harus pinter juga merespon kejadian tersebut dengan bijak. 

Masih berpikir ini klise? awas ya, kalau kamu ketauan masih ngiri aja sama temen kamu.

Wednesday, January 2, 2013

KM Kelas saya

KM atau ketua mahasiswa, atau di kelas saya, biasanya dipanggil ketua suku, merupakan orang yang mengorganisir kegiatan pembelajaran di kelas selama masa perkuliahan saya di Kelas A Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. Namanya Febi Deriawan Pratama, posturnya  agak tambun, berisi, dan unyu. Saya pernah berjanji suatu saat akan menggambarkan profil teman saya ini di blog, karena dia begitu menginspirasi dan berjasa bagi seluruh warga kelas A PPB 2008. Starting now.

Tidak banyak mahasiswa yang mau dijadikan km kelas. Karena pada akhirnya, sang km jadi seperti babu yang mengurus teknis perkuliahan, yang you know, mahasiswanya nyenyeh dan susah diatur. Meskipun diiming-imingi bisa dekat dengan dosen, dan nilai plus, jadi ketua kelas masih saja bukan pilihan yang menggiurkan, khususnya di kelas kami yang warganya hobi banget protes dan mengkritik. Tapi, Febi, teman saya itu, menerima jabatan ketua kelas dengan sangat legowo. Dia bukan saja mengatur semua teknis perkuliahan dengan tanpa keluhan, dia juga menjadi penyemangat kami selama proses kuliah. Caranya? Febi selalu rela bolak-balik mencari kelas, naik turun tangga (tapi maaf ya feb ga bikin kamu kurus juga), menghabiskan pulsa telepon untuk menghubungi dosen, mengurus absen dan jurnal perkuliahan, mengatur jam perkuliahan, dan, yang membuat dia berbeda, dia selalu menjarkom sms penyemangat untuk semua warga kelas seperti saat menjelang UAS atau presentasi. Mungkin bagi sebagian orang ini tidak spesial, tapi saya dan sebagian teman yang lain terharu dengan kebiasaan febi memberikan sms semangat Biasanya sms nya kurang lebih seperti ini

"Jarkom, presentasi kelompok pertama dimulai besok ya, Semangat untuk teman-teman kelompok pertama, Yakin lulus 2012 :)"

kurang lebih seperti itu, biasanya sms tektek bengek penyemangatnya itu lebih panjang lagi. Saya yang tidak suka membaca sms panjang-panjang tetap terharu juga melihat usaha Febi menyemangati kami yang malas dan prokastinator tingkat akut. Febi menurutku memiliki daya juang dan kepemimpinan yang keren. Orangnya ga neko-neko, idealis banget engga, rajin banget engga, malas juga engga. Yang lebih salut lagi, dia bisa mengatur kami! ya, kami memang mahasiswa psikologi yang mood, habit, dan intelektual nya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tapi semua warga kelas bisa diatur Febi (meski agak susah ya bikin kami diem dan dengerin kamu baik baik feb), itu magic banget di mata saya. Febi mampu membuat kami semua manut terhadap keputusan yang menurut kita memang masuk akal. Mungkin karena kita melihat pengorbanan febi buat kelas yang hardly sweet, kita juga gak tega membuat dia harus cape-cape lagi memaksa kita berkata iya. 

Febi termasuk orang yang jarang banget mengeluh, meski saya tahu dia sering kecapean. Secara gitu naik turun tangga tanpa lift, dua, tiga lantai ya lumayanlah. Atau harus membawa tugas anak-anak yang tebelnya gak bisa diperikirakan akal sehat (suruhan dosen sih, mau kita sih tipis tipis aja). Febi mau menunggu anak-anak yang telat ngumpulin tugas, dia tunggu sampai benar-benar terkumpul, dan kadang membuat trik biar anak-anak yang telat tetap bisa terjadwal mengumpulkan tepat waktu. Sangat berjasa. Kalau ada pahlawan tanpa tanda jasa di kelas A PPB 08 aku pikir, bukan cuma dosen, tapi ketua kelas ini. 

Alhamdulillah, dia berhasil ikut sidang bulan kemarin, meski kejar-kejaran banget sama deadline. Mungkin Tuhan emang sayang banget sama Febi, sampai dia bisa sidang bulan kemarin. Kebetulan dia seruangan sama saya, di ruangan yang disebut temen-temen sebagai ruangan neraka, karena dosen penguji nya pinter-pinter banget. Harusnya Febi urutan pertama, tapi karena saat itu kondisi saya sedang sakit, saya didahulukan. Febi saat itu berbaik hati mempersilakan saya, yang baru H-2 keluar dari rumah sakit untuk maju sebagai peserta sidang pertama, dengan alasan saya tidak kuat menunggu lama. Hal kecil yang sweet yang saya temukan saat itu adalah, teh yaya, -kaka saya yang harus menunggui saya selama sidang karena takut kesehatan saya melemah lagi- merasa sangat terharu dengan manner Febi yang sangat sopan. Febi dengan dewasanya memberikan box konsumsi bagiannya kepada teh yaya, persis seperti tuan rumah menjamu tamunya. Febi bilang, konsumsi buat dia gampang bisa minta lagi ke panitia. Teh yaya merasa, bukan masalah box konsumsinya, tapi sikap Febi yang dengan dewasa dan sopannya berusaha menjamu teh yaya itu yang membuat teh yaya salut. Itu hal kecil, yang menurut saya penting dimiliki mahasiswa zaman sekarang.
 
Sidang itu kali terakhir saya bertemu Febi, 26 Desember 2012. Saya berharap dia tetap menjaga sifat-sifat baiknya, karena saya yakin dia akan menjadi orang besar jika dia bisa mempertahankan semua itu. Sepenuhnya saya sadar, kecerdasan intelektual itu tidak bisa secara otomatis membuat seseorang menjadi sukses, tapi justru karakter  yang meliputi keterampilan komunikasi intrapersonal dan interpersonal yang ternyata juga sangat menunjang kesuksesan seseorang. Semoga semakin banyak Febi-febi lainnya di mahasiswa jurusan kami. And last, terima kasih Ketua Kelas kami yang unyu. Semoga sukses terus ya, we love ya! :)