Thursday, September 5, 2013

Analisis Diri itu Berbuah Manis



Berawal dari kegalauan, tentang rencana masa depan, saya banyak membaca tulisan orang-orang tentang karir.  Banyaknya sih tulisan di twitter. Apapun saya baca. Karena saya yang saat itu masih berstatus mahasiswa, tidak benar-benar yakin dengan jenjang pendidikan yang ditempuh.

Dari kecil, saya merasa tidak ahli di satu bidang. Ya, saya merasa tidak sangat pintar berhitung, tidak sangat pintar menulis, tidak sangat pintar menggambar, dan tidak “sangat” lainnya. Saya merasa saya berada di barisan average, barisan rata-rata. Jikalau saya sempat mendapatkan ranking 1, itu karena nilai saya semuanya rata. Kecuali olah raga.  Saya tahu psikomotor saya rendah.

Dari semua potensi yang saya rasa biasa saja, saya lalu mengandalkan hobi. Dari kecil, saya hobi menulis diary. Dari SD, entah kelas berapa, saya sudah mengoleksi diary bermacam desain. Sampai awal perkuliahan, saya mengenal blogspot, wordpress, dan tumblr, akhirnya diary saya berpindah menjadi diari digital. Tapi hobi saya mengumpulkan notebook lucu, tetap berlanjut. Buku buku imut itu beralih fungsi menjadi catatan kecil plan saya, atau banyak hal yang sering saya lupa, saya tulis di situ.

Sampai suatu saat, ketika saya sudah menjadi mahasiswa prodi bimbingan dan konseling, saya masih saja mempertanyakan, akan menjadi apa saya 5 tahun lagi? Jalan karir seperti apa yang akan saya kembangkan? Tentu saya memimpikan karir seorang ibu rumah tangga yang sempurna. Semacam Ainun Habibi itu. Tapi tetap saja, saya ingin mengetahui, pekerjaan apa yang sebenarnya saya minati.

Hobi blogging terus berlanjut. Berselancar internet hampir sepanjang waktu. Minus mata saya bertambah, dan saya tak bisa diganggu jika sedang bertatap muka dengan laptop.  Di internet itu saya menemukan banyak hal baru. Hobi browsing mengenalkan saya pada fashion blogger, juga blog-blog DIY.  Saya menyukai itu semua.

Hingga akhirnya sebuah tweet dari penulis favorit  @ikanatassa mengantarkan saya pada sebuah website Harvard Business Review.  Di sana tertulis jelas bahwa karir atau bisnis yang baik itu adalah irisan dari tiga hal,  (1) potensi, (2) minat/hobi, (3) pasar . Artikel itu membuat perenungan saya semakin dalam.
Saya menelusuri tiga hal tersebut, mengaitkannya pada apa saya yang miliki. 

(1)    Potensi, apa potensi saya? Saya tidak benar-benar tidak  tahu saya sebenarnya bisa apa.  Hasil tes psikologi tak pernah membuat saya puas. Saya masih saja merasa kemampuan saya rata-rata.  Kemudian, sebuah obrolan panjang dengan kakak, sekaligus sahabat, sekaligus inspirator saya, Teh Dewi Fuzti memberikan pendapat.
“Yang paling saya suka dari kamu, adalah tulisan.  Saya senang membaca tweet, postingan blog, puisi kamu, dan cerpen kamu terasa seperti tulisan novelis besar”.
Singkat cerita, saya putuskan, saya mengakui saya bisa menulis. Sebuah kemampuan yang tidak semua orang miliki. Mau tidak mau, saya harus mengakui ini, sebagai landasan untuk terbang.

(2)    Minat , sepertinya minat saya banyak. Saya persempit. Saya lihat, apa yang membuat saya sangat tertarik? Apa yang membuat saya betah berlama-lama di depan internet? Jawabannya adalah fashion. Saya tahu saya bukan fashionista. Saya tidak terlalu mengikuti perkembangan fashion dari koleksi winter,summer,fall, dan sebagainya. Tapi acara fashion di TV, artikel di majalah, blog fashion, berita designer, saya suka.
Ya, karena harus diputuskan. Saya pilih fashion sebagai minat saya.

(3)    Pasar, saya banyak membaca saat itu. Saya tahu pasar industri busana muslim sedang menggeliat. Di mana mana ada yang menjual busana ala hijabers. Online maupun offline. Tapi saya juga berpikir, mereka butuh media untuk mempromosikan bisnisnya. Salah satu medianya adalah majalah fashion hijab. Ada beberapa majalah fashion hijab yang sedang naik daun. Saya bisa mencuri pasar di situ.
Begitu kira-kira analisis kecil yang saya buat. Saya simpulkan, sepertinya akan tepat rasanya jika saya menulis untuk sebuah majalah fashion hijab. Entah bagaimana caranya, saya tak tahu. Saya pun masih harus belajar banyak, tentang tata kepenulisan maupun tentang fashion. Tapi saya telah memutuskan, saya akan menikmati pekerjaan menulis di sebuah hijab fashion magazine.



And you know what? Years and moths flies.  Sekarang, semua terkabul. Saya ditugaskan untuk menulis secara tetap si sebuah Majalah Fashion Hijab yang sangat saya sukai, LAIQA MAGAZINE. Perjalanan untuk sampai di sini pun begitu panjang. Dan saya tahu, perjalanan saya ke depannya pun masih panjang dan mungkin berliku.

Saya hanya menyadari bahwa


Allah itu Maha Baik, dan begitu banyak ayat dalam Al Quran yang menyatakan “bagi orang-orang yang berpikir”. Allah menciptakan akal bagi manusia untuk membedakannya dengan hewan. Jadi, masalah, seberat apapun, jika dipikirkan dengan sehat, selalu bersanding dengan jalan keluarnya. Wallahualam.


Masih banyak yang ingin saya ceritakan, tapi takut jadi boring kalau sekarang ditulis semua. Jadi, sampai jumpa di postingan berikutnya ya :)



3 comments:

Deenieka said...

Dari dlu aq jg pengen bgt jd salah satu bagian dari sebuah majalah.. tapi yaah.. Btw, selamat ya mia.. :)

Soft Mobiles said...

Selamat ya atas keberhasilannya semoga tambah sukses dalam karirnya.

Silmya said...

Thank you Deenieka dan Soft Mobiles :) aamin ya rabbal alamin..