Thursday, March 20, 2014

Menjemput Rezeki dengan Memberi

"Rezeki itu nggak bisa dihitung dengan rumus matematika apapun, Mi."


Kata-kata yang melekat kuat di ingatan, saat almarhumah mama dengan lempengnya ngomongin biaya yang harus keluar dalam sebulan, dan dibandingkan dengan penghasilannya dalam sebulan. Unpredictable! Bedanya jauh banget, jauh lebih besar pengeluarannya. Di sini, saya mau melepaskan diri dari segala teori manajemen dan konsultasi keuangan yang sekarang lagi hits. Karena ternyata memang ada yang lebih mengejutkan dari teori "memberi".

Mama bukan wanita office hour yang mendapat uang dengan jumlah yang sama setiap bulannya. Mengimani bahwa rezeki itu dari tuhan, bukan tangan manusia itu super sulit pemirsa. Tapi, entah kekuatan apa yang membuat mama nggak pernah mengkhawatirkan dirinya sendiri ketika harus mengeluarkan biaya besar untuk kesembilan anaknya, untuk santri-santrinya, untuk sanak saudaranya, untuk siapapun yang membutuhkan.

"uang yang keluar untuk orang lain (dengan ikhlas) akan memberi manfaat untuk kita sampai berkali lipat dan bisa terus begitu dalam waktu yang panjang, tapi uang yang keluar untuk diri sendiri hanya memberi satu manfaat saat itu saja tidak ada lagi."

Sulit memang meyakini ketika kita memberi sesuatu secara cuma cuma kepada orang lain (memberi bantuan berupa materi, tenaga, ataupun pikiran), akan ada balasan dari Tuhan dengan waktu yang tidak bisa diprediksi. Sulit juga membiarkan hati kita tulus membantu tanpa ada setitik pun harapan, akan ada balasan. Tapi saya mempelajari itu dari mama, jemput rezeki dengan memberi, katanya.

Sampai-sampai banyak orang Cina yang mengalokasikan pendapatannya untuk diberikan ke mesjid mesjid tertentu, dengan kepercayaan membuka peruntungan lebih besar (katanya). Andai saja mereka paham, kalau itu namanya zakat ya?

Perhitungan itu boleh, mengatur segala sesuatunya agar selamat di akhir bulan atau masa tua, itu wajib. Tapi tidak takut untuk kekurangan (karena memberi untuk orang lain), apa salahnya? Iya, iya tahu, uang nggak dibawa mati, tapi nggak ada uang itu rasanya mau mati, iya tahu. Saya pun sesak nafas kalau bokek. Tapi, ternyata meyakini bahwa rezeki itu dari Tuhan melalui tangan kita dan upaya kita sendiri itu Maha penting.

Bersyukurlah, maka akan Ku tambah Nikmatmu.
Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain, maka akan Kumudahkan urusannya.
Memberi  sesuatu dengan tulus kepada orang lain dengan ikhlas, Maka balasannya 10 kali lipat lebih baik

Entah ayat berapa, surat apa kalimat di atas. Tapi janji Tuhan itu ternyata yang harus diimani, dan diyakini.
Saya mau menjadi penjemput rezeki dengan memberi.., saya mau termasuk orang-orang yang tulus... tolong diaminkan saja...

Sunday, March 2, 2014

Rumah Cantik Citra


Waktu masih kecil, kira-kira usia SD, saya sering sekali melihat mama dipijat oleh tukang pijit panggilan ke rumah. Beberapa di antaranya sudah menjadi langganan mama. Mama kalau pegel dan kecapean itu obatnya dipijat. Saya selalu ikut-ikutan minta dipijat juga, meski akhirnya rusuh karena saya gelian orangnya. Dipijit kaki, ketawa, punggung juga. Akhirnya tangan saja yang paling aman.

Kebiasaan mama itu ternyata menular. Saya senang sekali dipijat sejak kecil sampai sekarang yang mungkin bahasanya buan dipijat ya, tapi body massage. Bedanya, saya tidak terlalu gelian seperti dulu.  Saya mau mengeluarkan kocek hanya untuk pergi ke salon melakukan scrubbing sambil pijat refleksi. Rasanya bisa mengembalikan kesegaran tubuh, apalagi setelah rutinitas yang padat.

Sejak menetap di Jakarta beberapa bulan ini. Saya belum menemukan tempat yang pas ( treatment dan biayanya tentunya). Sampai akhirnya saya melihat Rumah Cantik Citra di Jl.Soepomo di dekat Universitas Syahid. Agak ragu awalnya. Beberapa kali rencana ke RCC ini gagal karena waktu bekerja yang cukup padat.

Akhirnya kemarin, sempat juga mengunjungi RCC yang jaraknya dari Mampang tidak terlalu jauh. Jika menggunakan angkutan umum, cukup memakai Kopaja 612 jurusan Ragunan-Kampung Melayu.
And suprisely, dari melangkah masuk ke gedung ini, rasanya atmosfer relaksasi sudah terasa. Ruangannya wangi, bersih, rapi, dan yang paling penting mba-mba nya ramah banget. Mungkin karena terbiasa dengan emosi ibu-ibu di jalanan Jakarta yang rewel, sekali diramahin sama resepsionis RCC ini saya langsung
seneng.



Mendapat urutan antrian yang cukup lama karena weekend memang padat pengunjung. Sayangnya, saya sedang dalam periode menstruasi yang ternyata tidak diperbolehan mengambil treatment back massage. Cuma boleh muka, kaki, dan tangan saja. Akhirnya saya mengambil paket Basic, yaitu face – hand – foot massage.

Biayanya? Ada beberapa pilihan Basic Package, Signature Package, Bengkuang Susu Treatment, Night Whitening Treatment, dan Royal Jelly Korea Treatmant. Range harga  Rp.75.000 – Rp. 150.000, relatif terjangkau untuk ukuran Jakarta. Untuk paket tertentu bisa mendapat paket Sabun dan Hand Body Lotin Citra gratis seperti paket Body Scrub Signature + Massage Signature yang dibandrol dengan harga Rp.115.000.

Over all, pijatannya pas sekali. Mba yang men-treatment saya sangat ramah dan santun. Kadang saya suka risih kalau dipijit sama yang kasar. Maksudnya kasar di sini, dia kan memegang kepala, dan badan kita. Suka ada aja yang seenaknya menggerakan anggota badan saya dengan kencang. Padahal kan judulnya relaksasi.

Ruangan treatment-nya pun sangat nyaman. Ada kolam ikan yang membuat suara-suara gemericik air. Membuat suasana semakin tepat untuk relaksasi. Saya berada di ruangan ini selama sejam.  Jenis hand body atau sabun Citra yang dipakai juga ditanyakan terlebih dahulu kepada pelanggan. Saya memilih Citra Mutiara yang berawarna pink karena aromanya menurut saya paling wangi.


Setelah treatment selesai. Saya disuguhi minuman hangat yang terbuat dari racikan jahe dan kayu manis. Segar sekali rasanya.

Saya sangat puas dengan pelayanan RCC di daerah Soepomo Tebet ini. Sangat direkomendasikan untuk kamu yang ingin relaksasi dari kepadatan pekerjaan. Tapi ini khusus perempuan ya. 


Sumber foto : www.rileks.com , www.urbanesia.com, and my own