Monday, September 22, 2014

Cerita dari Siti Hajar


Faith doesnt make things easy, it makes things possible





Siti Hajar berusaha mencari air untuk Ismail kecil di padang gersang. Dia kebingungan, ketakutan. Ibu mana yang tak khawatir melihat bayinya kehausan di tempat sekering itu? Dia kemudian berlari dari Shafa ke Marwah yang jaraknya tidaklah dekat. Dia bolak balik sampai 7 kali tapi tak kunjung menemukan air. Kemudian, keajaiban terjadi, air justru muncul dari balik kaki Ismail, bayinya.

Air yang muncul itu bukan air biasa. Tapi air dengan PH terbaik di seluruh dunia. yakni air zam zam.

Setelah beberapa kali mendengarkan cerita Siti Hajar dan bayinya Nabi Ismail, baru kemarin saya terhenyak mendapat inspirasi besar dari cerita tersebut. Have you got it?

Thursday, September 18, 2014

Getaway to Pari Island (PART 1)

Meski katanya Pulau Pari masih kalah dengan pulau-pulau lain di kepulauan seribu, nggak sah rasanya kalau belum pernah sama sekali mengunjungi pulau ini. Saya pun berkesempatan mengunjungi pulau ini bersama teman-teman SMA Darunnajah angkatan 31. Traveling ke pantai saja sudah menyenangkan, apalagi sambil bernostalgia dengan teman-teman SMA yanggggg kelakuannya nggak berubah, kacau dan gila.




Perjuangan dimulai dari perjalanan saya menuju Muara Angke. Saya, Brina, dan Cahya berangkat dari daerah Cempaka Putih jam 5 pagi. Kami terpaksa memilih Taxi untuk bisa ke arah kota. Sampai Kota, kami naik bis kota warna biru ke arah merak. Kami berhenti sebelum jembatan (tinggal bilang ke kondektur kalau kita mau ke Angke). Kita diturunkan di sebuah pertigaan. Kita naik angkot berwarna merah (saya lupa nomornya). Beruntungnya, orang-orang di sana sudah bisa membaca ke mana kita akan pergi. Mungkin karena banyak orang yang menuju Muara Angke juga. Jadi setelah kita naik angkot merah, kita diturunkan di dekat Muara Angke dan disarankan naik odong-odong untuk masuk ke dalam pelabuhan karena jalanannya yang banjir dan becek.

Benar saja, ada banyak tukang odong-odong yang siap mengantar kami ke dalam. Kami pun naik odong-odong dan membayar Rp.5000 saja perorang. Meski jaraknya tidak jauh, tapi aroma bau dan jalanan becek cukup membuat malas berjalan kaki. Jadi menurut saya, Harga odong-odong itu worthed sekali.

Setelah berkumpul di dekat pom bensin Muara Angke, Kami harus antri untuk bisa naik ke kapal. Situasi ini adalah yang paling tidak manusiawi. Kami berjejal, lompat dari kapal satu ke kapal lainnya untuk mencapai kapal yang aka kita naiki. Belum lagi matahari yang mulai membakar, dan bau ikan busuk di pelabuhan yang mengigit hidung.

Tempat duduk di kapal pun untung-untungan. Lebih enak dapat tempat di bagian atas. Karena perjalanan laut cukup membuat mual parah.

Perjalanan laut itu memakan waktu 2 jam. Warna air laut yang dilalui perlahan akan berubah semakin jernih.

Sampailah kita di pulau pari. Lega sekali rasanya. Melihat pemandangan yang tidak bisa kita lihat setiap hari. Me-refresh segala beban pikiran yang selama ini merusak sistem kenyamanan hidup (lebay!)

Pantai Perawan


Saat surut di pantai perawan

saat surut di pagi hari di pantai daerah LIPI


my face when trying to catch the starfish



Menerima diri sendiri

Remember that sometimes not getting you want, can be the best thing for you...


Pernah sebenarnya mendengar istilah Self Acceptence di salah satu teori psikologi. Pernah sedikit mempelajari itu semua tanpa benar-benar paham aplikasinya pada diri sendiri. Sampai beberapa waktu lalu saya merasa sering sekali sedih, karena banyak hal yang saya mau, tapi tidak saya dapatkan (mungkin belum?)

Ada saat di mana, saya selalu merasa iri pada orang-orang yang disukai banyak orang. Dalam hati saya berbisik, kenapa ada orang yang mudah sekali disukai orang lain? Tanpa usaha apapun dari dia, cukup dilihat sekilas saja sudah disukai. Hmmm.. Adakah standar yang tidak saya capai, untuk menjadi se-adorable mereka? Kenapa banyak orang yang tidak tertarik bahkan tidak menyadari keberadaan saya di sekitar mereka? Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi seperti mereka?

Maklum, anaknya memang kompetitif. 

Sempat resah beberapa waktu (beda lagi sama galau ya). Mengintropeksi, kenapa saya tidak seperti dia? Kenapa Tuhan tidak memberikan kelebihan seperti mereka kepada saya? What's the reason? Am i not that worthed?

Sampai lama-lama capek juga saya. 

Membicarakan layak tidak layak. Memikirkan standar yang tidak tercapai. 

Kemudian pemikiran saya berhenti pada satu titik, bahwa jika memang kamu ternyata tidak layak mendapatkan apa yang kamu mau, terus kenapa? Kalau kamu tidak bisa mencapai standar "menarik" menurut orang lain, emang kenapa?

Ada saatnya kita harus menerima apapun yang kita punya. Apapun.
Menerima kalau ternyata kita tidak semenarik itu, menerima kalau kita emang nggak bisa, menerima kalau kita gagal, menerima kalau kita belum mampu. 

Terima dulu aja.

Setelah itu, saya merasa lebih tenang. Berusaha menerima banyak hal yang tidak saya sukai - tapi ternyata ada di dalam diri saya - Saya menerimanya. 

Setiap orang memang harus berusaha menjadi lebih baik, tapi harus diawali dengan pemikiran positif tentang dirinya sendiri. Kalau udah mengeluhkan diri sendiri dari awal, kalau kita tidak mencintai diri kita sendiri terlebih dahulu, effort nya akan berbeda.

Jadi, ini yang saya sebut menerima diri sendiri. Yaudahlah kalau emang saya "begitu" ya saya terima... Saya akui. Next time, i promise i'll be better. Gimana? Gitu aja, udah cukup.