Thursday, September 18, 2014

Getaway to Pari Island (PART 1)

Meski katanya Pulau Pari masih kalah dengan pulau-pulau lain di kepulauan seribu, nggak sah rasanya kalau belum pernah sama sekali mengunjungi pulau ini. Saya pun berkesempatan mengunjungi pulau ini bersama teman-teman SMA Darunnajah angkatan 31. Traveling ke pantai saja sudah menyenangkan, apalagi sambil bernostalgia dengan teman-teman SMA yanggggg kelakuannya nggak berubah, kacau dan gila.




Perjuangan dimulai dari perjalanan saya menuju Muara Angke. Saya, Brina, dan Cahya berangkat dari daerah Cempaka Putih jam 5 pagi. Kami terpaksa memilih Taxi untuk bisa ke arah kota. Sampai Kota, kami naik bis kota warna biru ke arah merak. Kami berhenti sebelum jembatan (tinggal bilang ke kondektur kalau kita mau ke Angke). Kita diturunkan di sebuah pertigaan. Kita naik angkot berwarna merah (saya lupa nomornya). Beruntungnya, orang-orang di sana sudah bisa membaca ke mana kita akan pergi. Mungkin karena banyak orang yang menuju Muara Angke juga. Jadi setelah kita naik angkot merah, kita diturunkan di dekat Muara Angke dan disarankan naik odong-odong untuk masuk ke dalam pelabuhan karena jalanannya yang banjir dan becek.

Benar saja, ada banyak tukang odong-odong yang siap mengantar kami ke dalam. Kami pun naik odong-odong dan membayar Rp.5000 saja perorang. Meski jaraknya tidak jauh, tapi aroma bau dan jalanan becek cukup membuat malas berjalan kaki. Jadi menurut saya, Harga odong-odong itu worthed sekali.

Setelah berkumpul di dekat pom bensin Muara Angke, Kami harus antri untuk bisa naik ke kapal. Situasi ini adalah yang paling tidak manusiawi. Kami berjejal, lompat dari kapal satu ke kapal lainnya untuk mencapai kapal yang aka kita naiki. Belum lagi matahari yang mulai membakar, dan bau ikan busuk di pelabuhan yang mengigit hidung.

Tempat duduk di kapal pun untung-untungan. Lebih enak dapat tempat di bagian atas. Karena perjalanan laut cukup membuat mual parah.

Perjalanan laut itu memakan waktu 2 jam. Warna air laut yang dilalui perlahan akan berubah semakin jernih.

Sampailah kita di pulau pari. Lega sekali rasanya. Melihat pemandangan yang tidak bisa kita lihat setiap hari. Me-refresh segala beban pikiran yang selama ini merusak sistem kenyamanan hidup (lebay!)

Pantai Perawan


Saat surut di pantai perawan

saat surut di pagi hari di pantai daerah LIPI


my face when trying to catch the starfish



No comments: