Wednesday, August 3, 2016

Sepenggal Wasiat Almarhum Kakek




Setiap tahun, keluarga besar saya mengadakan acara halal bi halal setiap H+3 lebaran. Setiap tahun pula acara intinya sama, yaitu silaturahim, mengaji, sambutan, perlombaan untuk anak-anak, dan membacakan wasiat mama pagelaran (sebutan untuk kakek dari bapak). Rasanya setiap tahun saya berusaha mendengarkan semua isi wasiat tersebut (berarti sudah 25 kali saya mengikuti acara ini, dan harusnya isinya sama). Tapi entah kenapa, baru kemarin ada satu poin wasiat yang menggetarkan hati saya.


Mang Iim, paman saya dari keluarga bapak yang masih hidup membacakan poin tersebut dengan suara pelan tapi pasti. Katanya kakek berpesan bahwa dalam hidup, akan selalu ada dua kemungkinan tentang sesuatu atau seseorang yang kita hadapi. Kemungkinan itu adalah sesuatu yang buruk, dan sesuatu yang baik. Pilihlah keputusan untuk menganggap sesuatu atau seseorang itu baik. Tetaplah berpikir positif tentang sesuatu/seseorang. Jika saja kebenarannya ternyata orang itu buruk atau jahat, bahkan ternyata kamu sedang tertipu, tak apa-apa. Setidaknya kita tidak memikirkan hal buruk tersebut, dan pikiran kita: bahagia.


Penampakan asli mang Iim ketika membacakan wasiat
Saya tertegun lama menimang-nimang pesan tersebut. Betapa selama ini justru saya sering berpikir tidak mau dibodohi oleh seseorang. Saya sering mendahulukan pemikiran negatif saya tentang seseorang/sesuatu, atas nama waspada. Padahal benar, ada dua kemungkinan kan? Baik dan buruk? dan saya malah menghabiskan waktu untuk berpikiran buruk. Waspada sih waspada, tapi kok ya saya jadi kurang bahagia karena pemikiran saya sendiri.

Ada yang sering begini juga?

Curhat lebih lanjut. Keluarga saya memang notabene bukan orang-orang yang suka melawan. Almarhum bapak hampir tidak pernah marah selama hidupnya (Setidaknya selama saya hidup bersamanya, saya tidak pernah melihatnya marah, mengeluh pun hampir tidak pernah). Almarhum Mama juga sangat sabar. Meski mama lebih sering ngambek, kesel, (khususnya dulu kalau saya pulang telat ke rumah, atau baju kependekan), tapi mama tidak pernah memberikan contoh bagaimana bila ia marah. Saya pernah melihatnya menangis beberapa kali karena kesal, tapi tidak pernah mendengarnya teriak-teriak memaki orang.

Well, it's such a reminder for me. Saya sering kesal, tapi jarang marah. Jarang marah bukan karena hati saya ikhlas, tapi seringnya karena saya memendam. Saya tahu itu tidak baik.

Mengingat-ngingat sifat baik orang tua dan wasiat kakek membantu saya meredakan emosi saya yang sering meluap-luap. Benar kata pepatah, orang tua itu teladan kita. Mungkin bapak tidak pernah mengucapkan, "Mia harus sabar, nggak boleh marah". Tapi justru tingkah laku bapak yang menasihati alam bawah sadar saya.

Pun dengan wasiat yang kakek saya berikan. Belum pernah rasanya membaca quote di sosial media yang isinya persis seperti apa yang dipesan oleh kakek. Dan meski kakek memberikan pesan tersebut jauh bertahun-tahun yang lalu, bagi saya pesan ini masih tepat untuk kehidupan saya sekarang.

Saya bangga memiliki orang tua dan kakek nenek yang super sabar. Saya bangga punya key figure yang tepat. Setidaknya, meski masih jauh dari sifat baik mereka, saya tahu kepada siapa saya harus bercermin.


No comments: