Saturday, November 5, 2016

Makna lain dari Kata "Belajar"


Waktu kecil, yang saya tahu makna belajar adalah duduk di bangku  kelas, buka buku, dengerin guru ngomong. Setelah tumbuh besar, makin mengerti kalau belajar itu bukan hanya di sekolah, tapi bisa di mana saja. Kata orang-orang hidup ini adalah sekolah yang sesungguhnya, tempat kita belajar apa saja.

Sampai di situ,  saya merasa sudah paham tentang konsep belajar.
Padahal belum.

Ternyata kata “belajar” itu sedemikian luasnya untuk dibicarakan. Termasuk bagi saya yang saat ini menemukan makna lain dari sebuah pembelajaran.


Saya belum sanggup secara finansial untuk melanjutkan jenjang kuliah, menjadi master atau doctor. Tapi saya sangat menikmati satu momen dimana, ternyata di dunia kerja, saya juga belajar banyak hal, banyak banget.

3 tahun saya bekerja di ranah yang cukup berbeda-beda. Di media cetak, e-commerce, media digital, dan digital agency. Sampai akhirnya, ada satu waktu dimana saya harus membuat sebuah tugas. Dimana banyak sekali hal yang harus dipelajari kembali. Ribettt banget kayanya. Susaah banget kayanya.

Di satu sisi rasanya saya merasa malas, dan berpikir “hadohhh, ini ngapain sih jobdesk gue bikin ginian juga,  kayanya gue salah tempat deh. Kayanya gue resign aja deh”. Di sisi lain saya berpikir, “Pelajari aja mi, satu persatu. Lo pasti bisa kok.”

Saya menemui satu pemahaman baru dalam belajar, yaitu untuk mempelajari sesuatu, kita harus percaya dulu sama diri sendiri. Di sisi lain, untuk belajar hal yang baru, kita harus menjadi botol kosong, yang dengan lapang hati menerima ilmu baru.

Tak sedikit saya menemui orang-orang yang mentok, sulit mempelajari hal-hal baru. Dengan alasan bukan passion atau tidak tertarik. Padahal menurut saya, dunia ini dinamis. Terlalu banyak ilmu baru yang tumbuh setiap detiknya. Misalnya saja perubahan digital yang terjadi belakangan ini. Tukang ojek, kalau nggak mau belajar cara canggih akan terus menjadi tukang ojek pangkalan yang nggak ngerti aplikasi Go-Jek itu apa. Mungkin sebagian dari mereka akan berpikir bahwa perubahan digital ini membawa dampak buruk bagi mereka: orderan mereka jadi berkurang. Iya gitu ini dampak buruk?

Sebaliknya, justru banyak tukang gojek yang usianya udah tua banget, tapi masih mau belajar menggunakan gadget.  Itu bukti bahwa belajar memang tidak mengenal usia kok.


Contoh lainnya, orang-orang yang terbiasa menulis di mesin tik, mau tidak mau harus belajar  bagaimana mengoperasikan laptop. Hidup ya gitu, terus memaksa kita untuk mempelajari hal yang baru. Kita harus menjadi botol kosong yang “nggak mental” menerima sesuatu yang baru, sekaligus mempercayai diri kita sendiri untuk bisa memahami ilmu tersebut.

Istilah "lifetime learner" itu benar adanya. Dee lestari belajar renang di usianya ke-40, Coloner Harland Sanders belajar memasak di-usia 40 tahun dan mendirikan KFC di usianya yang ke-60 tahun, dan ada banyak lagi tokoh yang mulai belajar di usia yang tak muda lagi.

Percaya diri, bukan berarti sombong. Menjadi botol yang kosong bukan berarti minder. Saya hanya ingin menjadi seseorang yang selalu berani untuk mempelajari hal yang baru. Anyone with me?

No comments: