Friday, May 19, 2017

Jakarta Mengubah Saya (Self Talk)




Di kota ini, semua semua orang dikejar oleh waktu. Terlambat sedikit, rasanya bisa rugi banyak. Padahal, kebanyakan waktu juga dihabiskan di jalanan. Atau, dihabiskan hanya untuk menunggu jam pulang kerja.

Meski seringkali menggerutu tentang Jakarta atau bahkan memaki, saya belum berani meninggalkan kota ini. Bukan karena orang lain, tapi murni karena saya sendiri. Mungkin ini keegoisan hati, mungkin juga karena ambisi untuk terus menggali potensi diri.

Yang jelas, sampai detik ini saya masih di sini.


Saya pernah sangat mencintai kota ini, melihat setiap sudut dengan riang hati. Saya menikmati saat-saat saya lari pagi, melihat matahari muncul di balik gedung-gedung di kawasan Kuningan. Saya juga menikmati cahaya lampu kota di malam hari, saat saya menyebrangi jalan layang yang menyambungkan Tebet dan Sudirman.

Tidak ada yang tak suka kemacetan Jakarta. Apalagi sumpah serapah kenek Kopaja atau berisik suara klakson kala lampu lalu lintas mulai hijau. Tak ada yang suka menunggu lama, seperti menunggu datangnya Busway atau KRL yang sedang gangguan.

Belum lagi kalau banjir. Perjalanan pulang yang biasanya hanya setengah jam, bisa jadi 3 jam. Kadang menahan lapar di jalan, atau parahnya lagi menahan buang air kecil (dan besar).

Tapi ternyata, dengan kenyataan tersebut saya masih saja di sini.

Karena bukan itu yang membuat saya kecewa dengan kota ini. Itu hanyalah stimulus, yang membuat dampak yang tidak saya sukai: perubahan pada diri sendiri.

Bagi yang kenal Silmia 7 tahun lalu, mungkin hampir tidak pernah melihat saya membentak (kalau melihat saya jutek mungkin sering). Saya biasanya bicara dengan nada rendah dengan ritme yang pelan. Saya mungkin berwajah ketus, tapi saya tidak suka marah dan selalu berusaha berpikir positif.

Bisa dibilang saya memiliki kesabaran yang baik.  Jika orang marah dipukul satu-dua kali, maka saya akan marah setelah pukulan ke-10. Entahlah, mungkin saya ingin marah tapi dulu saya punya sejuta alasan untuk memikirkan hal positifnya terlebih dahulu.

Kalau sekarang?

Kalau abang gojek salah rute atau tidak hati-hati di jalanan bolong saja rasanya sebel banget. Mungkin saya tidak terlihat menjadi “pemarah’ di depan teman-teman, tapi hati saya tidak selapang dulu.

Rasanya jika sesuatu terjadi di luar ekspektasi, bisa langsung kecewa, kesal, bahkan baper. Padahal dulu, Silmia bisa dibilang lempeng.

Tapi sekarang?

Baper banget anaknya. Mudah tidak suka, mudah kecewa, mudah menyalahkan sesuatu. Anehnya, saya sadar dengan semua itu tapi sulit menahan itu semua.

Perubahan yang jelas sangat terasa adalah nada berbicara. Saya melihat video ketika saya berbicara saat ini, dan membandingkan dengan cara bicara saya saat masih kuliah. Berubah, sangat berubah.

Dulu semasa kuliah, saya dikenal sangat tenang dalam membawakan presentasi. Bukan, bukan saya yang bilang begitu. Tapi rata-rata teman saya bilang begitu.

Tapi, sekarang, “Duh ini anak galak banget ya ngomongnya?”

Kota ini memang keras dan memproduksi orang-orang yang keras. Lembek sedikit nanti diinjak-injak. Kalau tak waspada, bisa jadi terperdaya.

Tapi apa harus saya ikut-ikutan menjadi seperti itu?

Bukankah harusnya justru kota ini membuat saya menjadi lebih kuat, bukan hanya keras?

Rasulullah SAW pernah menggambarkan dalam sebuah hadits;

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari)

Dalam Alquran juga disebutkan;

  “Memaafkan itu lebih mendekatkan kepada taqwa.”[Al-Baqarah:237]

“Dan hendaklah mereka suka memaafkan dan mengampuni.  Apakah kalian tidak suka Allah mengampuni kalian?’[An-Nuur:22]

Pada akhirnya saya berusaha mengembalikan pada pedoman hidup, Alquran. Yang memiliki saya adalah Tuhan. Maka yang tahu apa yang harus saya lakukan agar selamat, hanya Allah.

Perubahan dalam diri seseorang adalah sesuatu yang wajar. Karakter manusia memang dipengaruhi lingkungan ia hidup. Jika saya berubah pun, mungkin itu adalah reaksi saya terhadap lingkungan. Sebenarnya manusiawi.

Tetapi, jika perubahan itu berbelok ke arah yang salah, tak bisa saya berdiam diri. Harus kembali diluruskan. Ini bukan hanya tentang "saya keluar dari diri saya sendiri, saya harus jadi diri sendiri". Bukan itu saja. Tapi ini karena perubahan saya ini tak sejalan dengan apa yang harus saya lakukan sebagai hamba Allah.

Allah nggak suka sama orang emosian. Jelas, jelas sekali. Prinsip saya dulu, "Jadi orang itu jangan sering-sering marah. Nanti marah kita jadi murah." (Bener-bener self talk).... Kita lebih takut dimarahi orang yang jarang marah kan, daripada orang yang memang sering marah-marah?

Jadi mau tidak mau, saya akan berusaha meluruskan sesuatu yang belok ke arah yang salah. Mau tidak mau, mudah ataupun susah.

Meski belum optimal, saya mencoba lebih mengatur emosi. Kalau ada orang berbuat salah, jangan langsung marah. Kalau ada orang yang bikin kesel, jangan langsung sebel. Telusuri, jangan-jangan kesalahan bukan pada mereka, tapi pada pikiran sendiri.

Menjelang Ramadhan, ini yang sedang saya upayakan. Berpuasa amarah kadang kadang lebih susah dari menahan lelah. Tapi yang penting ada niat dulu, daripada tidak menyadari sama sekali?

Demikian curhat saya hari ini, semoga self talk ini bisa bermanfaat juga untuk yang baca.


Sampai bertemu di artikel berikutnya :) 

No comments: