Sunday, July 23, 2017

Fenomena 'Reporter Dadakan'




Kita ada di era, semua orang bisa menjadi media. Tentu saja dibantu dengan penemuan canggih bernama social media. Dulu, untuk tahu kabar dunia saya harus menunggu pengantar koran setiap pagi atau menunggu jam-jam berita tayang di TV. Sekarang, tak harus menunggu media besar itu untuk tahu apa yang sedang terjadi, cukup melihat apa yang sedang banyak di-post oleh teman-teman saja sudah cukup mewakili.

Suatu hari, di malam minggu yang santai, sepupu saya mengirimkan gambar orang bunuh diri di grup WA keluarga. Mengerikan sekali, bunuh dirinya gantung diri (lengkap dengan lidah menjulur dan berwarna ungu, ewh). Duh, kalau saya menuruti kemauan saya, ingin rasanya langsung delete dan melupakan hal itu. Saya tidak mau tahu.

Tapi, ya karena saya berkerja di sebuah kantor berita online, tentu saja langsung saya sampaikan ke grup kantor. Kejadian tersebut pun tak lama kemudian tayang di website kantor saya.
Kejadian ini bukan sekali terjadi, beberapa kali teman-teman kantor saya mendapat pengalaman serupa. Ya, berita di media besar sekarang sudah banyak disokong oleh reporter dadakan seperti itu.  Tak harus menunggu koran terbit, karena berita sudah muncul hanya dalam hitungan menit. Canggih sekali.

Perusahaan media makin banyak tumbuh di Indonesia. Tapi tak sedikit juga yang gulung tikar. Biasanya yang gulung tikar itu yang masih mengandalkan alat konvensional (atau ya mungkin sudah takdirnya saja ya).  Menurut pemikiran awam saya, pertumbuhan media online ini sangat dipengaruhi oleh fenomena ‘reporter dadakan’ itu.

Sebut saja Lambe Turah dengan ‘hengpong jadul cekrak-cekrek’. Siapa sih yang tidak tahu akun ini? Follow ataupun tidak, pengguna social media pasti tahu bawah akun ini menyebar berita gosip. Bahkan tak jarang media besar mengambil sumber dari Lambe Turah.

Melalui social media, semua konten begitu mudah disebar-luaskan. Semua bisa jadi reporter dadakan yang mengandalkan hengpong dan internet tentunya (hengpong jadul nggak ada internetnya sih agak diragukan ya fungsinya, LOL).

Tak perlu membuat akun seperti Lambe Turah. Cuitan di twitter, status di facebook, dan foto di Instagram milik teman-teman sudah bisa memberikan berita untuk kita.  Semua bisa jadi reporter dadakan.

Saya sebenarnya tidak mau mengangkat apa sih hal positif, apa sih hal negatifnya? Saya merasa bukan ahli media yang memiliki kapasitas untuk membahas itu. Bagi pemahaman awam saya tentu hal ini punya sisi yang berbeda.

‘Reporter dadakan’ tentu sangat membantu media besar untuk mengumpulkan sumber informasi. Kejadian bunuh diri di kampung halaman saya bisa langsung disampaikan cepat ke kantor tempat saya bekerja di Jakarta, dalam hitungan 1 menit saja. Yass,,1 menit saja.

Di sisi mata pisau lainnya, reporter dadakan tidak dibekali banyak ilmu tentang kode etik penyiaran. Mereka dengan mudahnya mem-broadcast foto lidah menjulur korban bunuh diri itu ke mana saja, lewat apa saja. 

Masih ingat kejadian bom di Kampung Melayu? Potongan tangan, kaki, bahkan kepala tersebar di seluruh ruang chat WA,  Facebook, dan Instagram. Ya Tuhan, kalau saya boleh memilih, saya benar-benar tidak mau melihatnya. Tapi apa daya, semua social media yang saya gunakan menampilkan foto-foto tersebut dengan mudahnya.

Kita tidak pernah tahu apa dampak menyebarnya foto-foto tersebut. Mungkin kecemasan mungkin juga jadi inspirasi orang-orang yang tidak waras untuk melakukan hal serupa. Kita tidak pernah tahu ada orang yang sedang depresi, melihat orang lain bunuh diri, jadi pengen ikut-ikutan. Ya kan?
Menjadi ‘reporter dadakan’ menurut saya tak salah. Malah kantor saya sangat terbantu, tapi sepertinya kita harus lebih bijak saat menekan tombol ‘share’ di social media. Apakah berita itu benar atau hoax? Apakah berita itu baik jika disebarkan? Adakah foto yang harus diblur?

Sebaiknya kita tak jadi warga yang spontan dalam hal ini. Menyampaikan sesuatu yang bemanfaat tentu baik, tapi alangkah lebih baik jika kita lebih banyak membaca terlebih dahulu sebelum sharing info tertentu. 

Isu ini memang bukan isu baru. Tapi masih saja terjadi dan terjadi lagi di ruang social media saya.  Well, mewakili kantor tempat saya bekerja, saya sangat mengapresiasi orang-orang yang mau mendokumentasikan kejadian penting di sekitarnya. I really appreciate ‘reporter dadakan’. Jujur, ini membantu banyak. Tapi semoga reportasenya tidak sembarangan ya. Laporkan kepada yang berwajib, atau langsung ke media besar itu akan sangat membantu. :)

Photo: unsplash.com


1 comment:

dudukpalingdepan said...

halo mba, ini saya Enny yang nanyain link blog emak-emak di grup KEB untuk saling follow dan blog walking :) setuju banget deh sama isi postingan ini, dan mungkin saya pun sudah menjadi bagian dari "reporter dadakan" itu :D hanya saja mungkin pihak yang ahli di bidang jurnalistik bisa menyebarluaskan kode etik dalam menyiarkan informasi jadi orang-orang awam bisa tahu batasan-batasannya sebelum menyebarluaskan kejadian atau berita ^^ saya follow ya blognya.