Dari Gitasav-Helmi, Saya Menyadari Hal Penting Ini


Beberapa waktu lalu, timeline Instagram dan Twitter saya ramai dengan postingan tentang Gitasav dan Helmi. Saya mem-follow Gitasav di Instagram dan mengikuti akun Youtube-nya. Di pagi hari, saya baca hanyalah kasus sexual harassment yang di-posting Gita di Insta-story, tiba-tiba saja menjelang sore kok nama Helmi tiba tiba populer?

Sebenarnya saya agak takut nih nulis kronologi permasalahan mereka (Takut salah tulis, karena mungkin saya kurang mengikuti secara detail). Tapi mungkin saya tulis sekilas ya, biar pada paham juga maksud tulisan saya.

Jadi awalnya Gitasav mendapatkan sexual harassment di Instagram. Ada akun bernama Tristan yang mengungkapkan ketidaksukaannya kepada Gita, lalu mengajak Gita berhubungan seksual.

Gita tak terima, dia pun curhat di IG story. Nah tanpa banyak pertimbangan karena mungkin emosi berat, dia mem-posting foto profil picture akun bernama Tristan di IG Story-nya. Tapi selang beberapa menit kemudian, dia mengkonfirmasi kalau akun itu palsu. Dan foto yang dia posting itu bukan wajah Tristan, melainkan seseorang bernama Helmi.

Nah, nggak selesai sampai di situ. Ternyata orang bernama Helmi itu sudah men-DM Gita saat itu dan meminta Gita menurunkan fotonya dari IG story. Followers Gita kan 600-an K ya. Wajar juga dia panik.

Nah, di part ini aku nggak begitu jelas. Karena DM yang masuk ke IG Gita banyak, Gita tak membalas DM Helmi. Kalau nggak salah, Helmi menghubungi pacar Gita, yang bernama Paul untuk menurunkan fotonya dari IG Gita. Helmy pun (kalau tidak salah) memposting sesuatu di IG-nya meminta Gita untuk menurunkan fotonya karena ia merasa dirugikan.

Well, dari situ api membara. Gita menjawab DM Helmi dengan emosional. Kata-katanya memang cukup kasar sih menurutku. Meski Helmi berusaha berbicara dengan halus (dan berbahasa inggris lantjar), Gita tampaknya malah makin kesal. 

Gita menganggap dia tidak bersalah, karena sudah mengkonfirmasi kalau akun itu akun palsu. Helmi, merasa, “ini ga ada minta maaf sama sekali nih, Git?”.

Oke, cukup deh sampai di situ. Lengkapnya saya kurang tahu (bisa dicek deh akun masing-masing ya untuk kebenarannya), karena yang membuat saya terpana adalah NETIZEN! Like, wowwwww rame banget men di Twitter.

Di awal Gita mem-posting tentang sexual harassment, saya sudah ngeuh. Tapi nggak tahu kalau akan sebesar ini gelombangnya.

Tiba-tiba ada dua kubu. Kubu Gita, kubu Helmi. Haters Gita tiba tiba bangkit entah dari mana. Mem-posting cuitan Gita di Twitter bertahun-tahun lalu yang secara tidak langsung bilang, “Gita tuh emang kasar dan emosional dari dulu,” gitu.

Ada pula fans die hard Gita yang memuji-muji kekuatan dan kesabaran Gita. Mereka mendukung, mendoakan, semoga Gita baik-baik saja.

Helmi? Mungkin bisa dibilang, ini saatnya doi jadi selebgram. Klub pecinta Helmi tiba tiba saja terbentuk! Banyak yang baper, dan luluh dengan cara Helmi menghadapi Gita dengan kata-kata manis. Bahkan, Helmi mempromosikan penggalangan dana yang dihelat Gita untuk Syiria.

Yang  saya pelajari dari semua itu?

Sampai titik ini, sebanyak apapun informasi (secara online) yang saya terima, rasa-rasanya saya tidak punya hak untuk menilai. Saya justru terkejut, melihat betapa mudah orang-orang memberikan penilaian, membenci, mencintai, hanya dengan apa yang mereka liat di social media.

Jika diingat-ingat ke belakang. Rasa-rasanya saya tidak pernah membenci, tidak suka, apalagi jadi haters seseorang hanya dengan melihat tingkahnya di media social. Mau dia posting apapun, mau pencitraan, siapakah saya yang bisa men-judge mereka orangnya seperti apa?

Jujur, ada beberapa selebgram yang saya tidak suka. Tapi, itu karena saya mengenalnya di luar platform digital. Saya pernah berhubungan dengan mereka, pernah berkomunikasi, atau setidaknya pernah melihat barang sebentar.

Selebihnya? 

Saat masih kuliah dulu di jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, saya mengenal beberapa tes kepribadian. Dari dosen saya juga, saya tahu bahwa perlu proses panjang untuk menyimpulkan kepribadian seseorang itu seperti apa.

Nggak boleh seorang psikolog, atau konselor memberikan label tertentu kepada orang lain tanpa melalui tes yang relevan. Kalau psikolog yang memahami ilmu perilaku manusia saja tak boleh sembarang menilai, apalagi saya yang ilmunya masih secimit?

Dari persoalan Gita-Helmi, (yang entah penting atau tidak untuk menjadi trending topic di Twitter), saya belajar untuk mengendalikan diri dalam menilai orang lain. Mulut saya sering banget nyinyir, sering juga ngomongin kejelekan orang, tapi dari sini saya menguatkan diri lagi untuk tidak menilai hanya karena sosial media.


Jika hal ini terjadi sama kamu, sama saya. Sedih banget nggak sih melihat orang bisa dengan mudahnya men-judge, berkomentar tanpa filter? Padahal ketemu saja belum pernah. Apa berani mencemooh dengan kasar kalau bertemu langsung?

Meski memang ternyata Gita salah, atau Helmy salah, akan lebih baik jika yang berkomentar adalah orang yang benar-benar mengenalnya. Bukan akun selewat yang tahu mereka hanya karena sosial media.

Share:

0 komentar