Vertigo di Tengah Perjalanan ke Bangkok (Masalah Telinga Part 2)



Halo, sudah lama sekali tidak menulis. Sebelumnya saya sudah pernah menceritakan perjalanan saya mencari dokter THT terbaik di Jakarta di sini. Di tulisan sebelumnya saya cerita juga sekilas tentang permasalahan telinga yang saya alami. (Ini part 2, jadi biar nggak bingung, mending baca dulu yang part 1 ya).

Setelah saya mengobati daging jadi yang timbul di daerah telinga saya, untuk beberapa hari kondisi masih aman. Dokter Zanil Musa memberikan obat tetes Teravid untuk terus mengobat infeksi telinga saya.

Tapi, tiba-tiba saja suatu hari saya vertigo. Saya kaget, karena saya tidak pernah merasakan vertigo sebelumnya seumur hidup. Sempat bingung, bahkan awalnya saya kira ada gempa karena saat itu Lombok sedang sering gempa.

Tapi ternyata tidak ada gempa di Jakarta. 

Teman-teman dan kakak saya bilang itu vertigo. Dan mereka bilang, vertigo itu kemungkinan besar dari telinga karena pusat keseimbangan tubuh itu ada di telinga.

Saat itu, tepat 3 hari sebelum perjalanan liputan ke Bangkok. Rasanya bingung sekali. Sebingung-bingungnya. Tiket sudah keluar, saya pribadi pun memang menginginkan pekerjaan tersebut. Tapi, vertigonya benar-benar bukan bercanda.

Bagi yang pernah mengalami vertigo, tahu betul rasanya seperti gempa. Berdiri susah, dan butuh waktu untuk diam dan istirahat. Hari itu hari minggu dan jadwal dokter hari selasa. Sementara saya terbang hari Rabu. Jadi tepat sehari sebelum penerbangan saya baru mendatangi dokter Zanil Musa.

Sebelum saya cerita kalau saya mau ke Bangkok, dokter sempat bilang kalau saya harus istirahat dan tidak boleh masuk kerja. Pas bilang saya ada dinas ke Bangkok, ngomel-ngomel lah beliau.

“Kamu nggak bisa cancel aja? Itu kamu harus take off, landing, di bandara angkat barang, kamu nggak bisa ngelakuin itu,” tuturnya.

Jadi vertigo itu haqul yaqin muncul karena masalah telinga yang belum beres. Dokter sempat bingung karena daging jadi itu sudah mati. Dokter pun tidak berani melakukan tindakan apapun saat itu, karena saya langsung pusing tiap dokter menyentuh telinga saya.

Karena saya keukeuh, mau berangkat ke Bangkok. Dokter meresepkan banyak obat agar saya tidak terlalu pusing di perjalanan nanti. Ada obat vertigo, obat mual, antibiotik, hingga obat demam pun disiapkan karena takut ada demam juga.

Berangkatlah saya ke Bangkok. Saat di bandara Soekarno Hatta saja, saya sudah berusaha keras untuk tetap bisa tegak berdiri. Setelah check in sendiri, saya mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Bandara yang luas, membuat penglihatan sering kabur dan goyang.



Untungnya di gate terminal 3, ada kursi tidur. Saya bisa rebahan. Saat itu yang paling mengganggu adalah mual yang diakibatkan oleh vertigo. Saya memanfaatkan waktu untuk istirahat semaksimal mungkin kapanpun bisa duduk.

Saat take off, berdebar sekali rasanya. Takut pusing, takut kenapa-napa. Tapi syukurlah nggak kenapa napa sama sekali. Begitupun saat landing. Saya pun menceritakan keluhan kesehatan tersebut kepada kru yang berangkat, khususnya ke perwakilan dari Tourism Authority of Thailand yang memimpin perjalanan kami. (Thank you Wilyen, kamu sangat membantu selama di sana, I love you!).

Vertigo tidak datang setiap saat. Saya merasa sangat pusing di kondisi tertentu, yaitu ketika menenggak, menunduk, atau nengok terlalu lama. Jadi, saya tidak bisa menyimpan koper di kabin sendiri, sujud dan rukuk ketika salat (jadi saya selalu salat dalam keadaan duduk), dan melihat sesuatu yang terlalu ber-pattern seperti tulisan di artikel (garis-garis), corak di karpet, atau ruangan yang terlalu lapang.

Satu hal yang selalu saya lakukan saat itu: mengukur kemampuan diri. Kapanpun saya merasa tidak kuat, saya bilang dan minta istirahat. Kapanpun saya merasa kuat, saya akan tetap bekerja dengan professional. Pekerjaan pokok saya adalah menulis dan memotret, juga melakukan wawancara. Saya lakukan sebisa saya. 

Tantangan lainnnya adalah perjalanan harus dilanjutkan ke Phuket, di mana kami harus kembali naik pesawat. Jadi rutenya adalah Jakarta-Bangkok-Phuket-Bangkok-Jakarta. Tapi, nggak ada kesulitan tanpa kemudahan, saya merasa tim yang berangkat hari itu sangatlah pengertian. Mereka membantu kapanpun saya merasa tidak sehat. Terima kasih ya semuanya!

Bersama tim dari agent travel dan Tourism Authority of Thailand di Patong Beach, Phuket


Dan mba Eny, redaktur pelaksana di kantor saya pun tidak terlalu menuntut pekerjaan yang terlalu keras selama saya di sana. Saya berusaha update artikel semampu saya, karena menulis di layar laptop maupun ponsel ternyata cukup menantang di tengah kepala yang sering pusing itu.

Tapi Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik. Saya pulang ke Jakarta dengan aman. Meski pas pulang dari bandara sempat kesulitan, karena lagi-lagi merasa pusing hebat. Sementara saya membawa banyak barang dan harus kontek-kontekan dengan supir grab.

FYI, di terminal 3, jika mau memesan go-car harus bertemu di tempat parkir lantai 3. Di sana tempat penjemputan paling aman. Tapi harus siap-siap menunggu karena untuk mencapai tempat penjemputan para mobil itu harus mengantre dan macet.

Sepulang dari Bangkok. Saya masih merasakan vertigo. Heran, kata dokter, minum obat vertigo bisa menghilangkan rasa pusing selama di Bangkok. Tapi tidak sama sekali.

Saya pun kembali menghadap dokter. Beliau memeriksakan kembali telinga saya dan telinga pun di-rontgen. Ternyata, daging jadi itu, bukan hanya ada di depan gendang telinga, tapi di belakang gendang telinga. Daging itu mengganas mengganggu pusat keseimbangan saya, makanya saya selalu merasa pusing. Gendang telinga saya pun rusak parah, jaringan di belakang telinga sudah compang camping, dan hasil pemeriksaan audio menyebutkan telinga kanan saya tuli berat.

Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi. Namanya operasi Timpanoplasti. Operasi perbaikan gendang telinga, pembersihan daging jadi di sekitar telinga saya, dan merapikan jaringan yang rusak.

Operasinya besar dan rumit, butuh waktu hampir tiga jam. Harganya pun tidak murah, bisa dibilang sangat mahal. Saya tentu harus dibius total. Konon, operasi telinga itu paling sakit, dan paling susah karena jaringannya kecil.

tarik nafas

Ceritanya masih sangat panjang. Saya akan menuliskan pengalaman operasi di RS THT Bedah Ciranjang, jenis operasinya, biayanya, dan dampak operasinya kepada tubuh saya di tulisan selanjutnya. 

Doakan saya semoga cepat pulih.


Salam,

Silmia

Share:

0 komentar